Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca dagang Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar. Meskipun demikian, secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2026, neraca dagang negara ini masih mencatatkan surplus senilai US$4,03 miliar.
Penyebab Utama Defisit Mei 2026
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa defisit pada Mei 2026 utamanya berasal dari sektor migas (minyak dan gas) yang mencatat minus US$3,76 miliar. Sebaliknya, sektor nonmigas (non-minyak dan gas) justru menunjukkan surplus sebesar US$2,15 miliar.
Ateng menambahkan bahwa komoditas migas yang menjadi penyumbang defisit terbesar adalah hasil minyak (produk olahan minyak) dan minyak mentah (crude oil). Defisit ini terjadi karena nilai ekspor (pengiriman barang ke luar negeri) yang tercatat US$23,20 miliar jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai impor (pemasukan barang dari luar negeri) yang mencapai US$24,81 miliar pada Mei 2026.
Komoditas dan Negara Penyumbang Defisit Kumulatif
Secara kumulatif (gabungan), terdapat lima kategori komoditas utama yang berkontribusi terhadap defisit perdagangan:
- Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) dengan defisit US$12,74 miliar.
- Mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) dengan defisit US$6,23 miliar.
- Plastik dan barang dari plastik (HS 39) dengan defisit US$3,74 miliar.
- Serelia (HS 10) dengan defisit US$1,62 miliar.
- Kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) dengan defisit US$1,56 miliar.
Berdasarkan negara asal, tiga negara penyumbang defisit terbesar bagi Indonesia adalah:
- China, dengan defisit US$10,73 miliar.
- Australia, dengan defisit US$3,62 miliar.
- Prancis, dengan defisit US$1,29 miliar.