Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Harga Sapi Perah Impor
Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah (mata uang Indonesia) terhadap dolar AS (mata uang Amerika Serikat) kini mulai berdampak pada harga sapi perah impor. Kenaikan harga ini terjadi di tengah kebutuhan untuk menambah populasi ternak nasional. Pada perdagangan Selasa (2/6) sore, nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,19 persen, mencapai level Rp17.839 per dolar AS.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Makmun, menjelaskan bahwa pelemahan kurs ini turut memengaruhi biaya impor sapi perah serta bahan baku susu yang sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri. Ia menyebutkan bahwa Australia merupakan salah satu sumber utama sapi perah impor bagi Indonesia karena kedekatan geografis, meskipun peluang impor dari negara lain seperti Selandia Baru juga terbuka. Kenaikan harga sapi perah impor, khususnya sapi perah bunting (sapi perah yang sedang hamil), dilaporkan meningkat dari rata-rata sekitar Rp45 juta per ekor pada tahun sebelumnya menjadi di bawah Rp50 juta per ekor pada tahun ini, menunjukkan kenaikan yang relatif terbatas.
Ketergantungan Produksi Susu Nasional pada Impor
Pemerintah terus berupaya mempercepat peningkatan produksi susu di dalam negeri, namun saat ini sektor tersebut masih sangat bergantung pada impor. Produksi susu nasional hanya mampu memenuhi sekitar 20-25 persen dari total kebutuhan domestik. Oleh karena itu, impor sapi perah tetap menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mempercepat peningkatan populasi ternak dan pada akhirnya, produksi susu. Data menunjukkan bahwa sekitar 75-80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor.
Pengaruh pada Industri Pengolahan Susu
Dampak pelemahan rupiah juga dirasakan oleh industri pengolahan susu yang masih mengandalkan bahan baku impor dalam jumlah besar. Tjatur Lestijaman, General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy, menyatakan bahwa sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional berasal dari impor. Kondisi ini menyebabkan fluktuasi nilai tukar dolar AS secara langsung memengaruhi biaya produksi. Kenaikan kurs dolar secara langsung meningkatkan biaya bahan baku yang harus didatangkan dari luar negeri, menjadi tantangan signifikan bagi keberlanjutan operasional industri.
Langkah Mitigasi Industri Terhadap Kenaikan Biaya
Meskipun menghadapi kenaikan biaya, perusahaan di industri pengolahan susu berkomitmen untuk tidak membebankan seluruh kenaikan tersebut kepada konsumen. Hal ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat agar produk tetap terjangkau. Berbagai program efisiensi telah dijalankan, baik di tingkat pabrik maupun sepanjang rantai pasok, guna meredam dampak kenaikan biaya. Langkah-langkah efisiensi ini berhasil menekan dampak pelemahan rupiah terhadap biaya produksi hingga tidak lebih dari 10 persen. Diharapkan, peningkatan produksi susu lokal di masa mendatang dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, sehingga industri tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal seperti pergerakan nilai tukar mata uang asing.
Strategi Pemerintah Jangka Pendek dan Panjang
Widyastuti, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, khususnya bidang pangan), mengakui bahwa pelemahan rupiah jelas berdampak pada sektor susu nasional. Pemerintah, bersama kementerian terkait, pelaku usaha, peternak, dan asosiasi, sedang menyiapkan berbagai langkah mitigasi. Untuk jangka pendek, pemerintah berupaya menjaga ketersediaan pasokan susu impor, termasuk melalui pemanfaatan kontrak pembelian jangka panjang untuk mengurangi risiko fluktuasi harga akibat perubahan kurs. Selain itu, pemerintah mendorong diversifikasi negara pemasok susu serta melakukan efisiensi rantai pasok guna menekan biaya logistik dan penyimpanan.
Sementara itu, untuk jangka menengah dan panjang, fokus pemerintah adalah meningkatkan produktivitas peternak, mengembangkan sentra sapi perah (pusat pengembangan sapi perah) baru, memperkuat kemitraan, serta memperluas akses pembiayaan murah bagi peternak. Diharapkan, dukungan pembiayaan dengan bunga rendah dapat memotivasi peternak untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi mereka.