Berita Industri

Ibrahim Assuaibi: Rupiah Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed

03 Juli 2026 Natindo Cargo
Ibrahim Assuaibi: Rupiah Tertekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed

Pelemahan Rupiah di Tengah Penguatan Mata Uang Asia Lain

Nilai tukar rupiah menunjukkan pelemahan pada perdagangan Kamis (2/7), mencapai level Rp17.995 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan penurunan sebesar 43 poin atau 0,24 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Pelemahan Mata uang Garuda (sebutan untuk rupiah) ini terjadi di saat mayoritas mata uang di kawasan Asia justru menguat terhadap dolar AS.

Beberapa mata uang Asia yang terapresiasi antara lain yuan China naik 0,04 persen, peso Filipina menguat 0,11 persen, ringgit Malaysia naik 0,49 persen, dolar Singapura menguat 0,19 persen, yen Jepang melonjak 0,85 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,15 persen. Hanya dolar Hong Kong yang tercatat melemah tipis 0,01 persen. Tren penguatan juga terlihat pada mata uang utama negara-negara maju, seperti euro Eropa yang naik 0,31 persen, poundsterling Inggris menguat 0,53 persen, dolar Australia terapresiasi 0,04 persen, dolar Kanada naik 0,16 persen, dan franc Swiss menguat 0,52 persen.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Federal Reserve dan Sentimen Domestik Menekan Rupiah

Menurut analis mata uang Ibrahim Assuaibi, penguatan dolar AS secara global didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat) akan kembali menaikkan suku bunga. Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada bulan September mencapai sekitar 67 persen. Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS, atau Nonfarm Payrolls (data yang mengukur jumlah pekerja di sektor non-pertanian), yang dijadwalkan malam ini dan diperkirakan akan menunjukkan penambahan 110 ribu tenaga kerja.

Selain faktor eksternal, Ibrahim Assuaibi juga menyoroti sentimen domestik yang masih membebani pergerakan rupiah. Beberapa faktor internal yang disebutkan meliputi memburuknya kepercayaan pelaku pasar setelah defisit neraca perdagangan (selisih nilai ekspor dan impor) pada bulan Mei. Selain itu, kontraksi aktivitas manufaktur yang tercermin dari angka PMI (Purchasing Managers' Index, indeks yang mengukur aktivitas sektor manufaktur) sebesar 46,9 pada bulan Juni juga menjadi perhatian. Proyeksi penurunan kecukupan cadangan devisa (aset mata uang asing yang dipegang oleh bank sentral) Indonesia oleh Fitch Ratings turut menambah tekanan pada rupiah.

Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan

Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (3/7) akan bergerak fluktuatif. Meskipun demikian, ia melihat adanya potensi pelemahan lebih lanjut, dengan perkiraan kisaran pergerakan antara Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS.

Bagikan Artikel Ini
Konsultasi Gratis Sekarang!