Ternyata nilai tukar bisa mempengaruhi permintaan agregat melalui efeknya terhadap proses perkembangan ekspor juga impor. Secara spesifik itu mempengaruhi harga relatif barang yang diimpor maupun ekspor. Dan pada akhirnya berdampak pengaruh ke daya saing juga terhadap permintaan mereka. Contohnya seperti apresiasi membuat harga barang yang dieskpor menjadi lebih mahal bagi orang asing juga menurunkan pemintaan mereka.
Sebaliknya itu membuat harga barang yang diimpor menjadi lebih murah bagi pembeli domestik. Sebagai hasilnya berdampak ke penurunan ekspor dan impor pun meningkat juga menurunkan pemintaan agregat. Sebagaimana definisi dari ekonom mengenai permintaan agregat terdiri dari konsumsi rumah tangga, investasi bisnis, pengeluaran pemerintah dan juga termasuk ekspor neto. Sedangkan terakhir yaitu selisih antara ekspor dan impor.
- Permintaan Agregat = Konsumsi Rumah Tangga + Investasi Bisnis + Pengeluaran Pemerintah + Eksor Neto
- Permintaan Agregat = Konsumsi Rumah Tangga + investasi Bisnis + Pengeluaran Pemerintah + (Ekspor - Impor)
Dengan rumus perubahan dalam ekspor neto berdampak langsung pada permintaan agregat. Misalnya jika ekspor neto positif maka ekspor melebihi impor bisa disebut juga dengan surplus Dagang. Hal itu menambah permintaan agregat. Sebaliknya ekspor neto yang negatif maka impor melebihi ekspor disebut dengan defisit dagang yang mengurangi permintaan agregat.
2. Nilai Tukar Bisa Mempengaruhi Ekspor & Impor :
Perdagangan Internasional tidak hanya melibatkan barang dan jasa tetapi juga mata Uang sebagai alat pembayaran. Jadi ketika impor kita harus membayar dengan dolar dengan menukar mata Uang domestik. Sebaliknya ketika saat ekspor kita mendapatkan dolar sebagai pembayaran dań mentranslasikan ke dalam mata Uang domestik untuk membeli barang juga jasa di perekonomian. Sehingga ketika mata Uang domestik berharga lebih tinggi Atau lebih rendah terhadap dollar. Hal itu akhirnya menpengaruhi harga relatif barang dan jasa yang diekspor maupun impor. Hal itu akhirnya mempengaruhi harga relatif barang dan jasa yang diekspor dan diimpor. Kami menyebut harga mata Uang domestik terhadap dolar sebagai nilai tukar.
Jika mata Uang domestik menjadi lemah terhadap dolar barang domestik, menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri ketika dikonversikan ke dolar. Sebaliknya jika nilai tukar yang lebih lemah akan berdampak pembeli domestik membayar lebih mahal untuk barang yang diimpor karena harus banyak menukar mata Uang domestik untuk mendapatkan 1 dollar. Efek sebaliknya berlaku ketika mata uang domestik menjadi lebih kuat terhadap dolar. Barang yang diekspor menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. Sebaliknya, barang yang diimpor menjadi lebih murah bagi pembeli domestik.
3. Cara kerja nilai tukar mempengaruhi ekspor dan impor :
Contoh kita ambil kasus yang disederhanakan. Asumsikan, nilai tukar euro terhadap dolar AS adalah EUR1,5/USD. Sebuah perusahaan Eropa mengekspor produknya ke pasar Amerika Serikat dan menjualnya dengan harga EUR6 per unit. Kemudian, perusahan tersebut mengimpor bahan baku dari Amerika Serikat seharga USD3 per unit.
Jadi lika nilai tukar berubah menjadi EUR2/USD. Orang Eropa mengatakan euro terdepresiasi karena mereka harus mengeluarkan 2 euro untuk mendapatkan 1 dollar AS, lebih banyak daripada sebelumnya (1,5 euro). Dengan kata lain, nilai tukar euro lebih lemah. Sebaliknya, bagi orang Amerika, dolar AS terapresiasi. Itu karena dengan menukar 1 dolar, mereka mendapatkan 2 euro, lebih banyak daripada sebelumnya (1,5 euro). Orang Amerika akan mengatakan dolar lebih kuat terhadap euro.
Sekarang jika diasumsikan harga bahan baku tidak berubah. Untuk perusahaan Eropa tersebut ternyata bahan baku yang diimpor menjadi lebih mahal karena depresiasi. Sebelumnya, mereka hanya mengeluarkan 4,5 euro (USD3 per unit x EUR1,5/USD) dan mengkonversinya menjadi 3 dolar AS untuk membeli satu unit. Tapi karena euro terdepresiasi, mereka harus mengeluarkan 6 euro [USD3 x EUR2/USD].
Sebaliknya untuk orang Amerika perubahan nilai tukar tersebut membuat produk Eropa tersebut menjadi lebih murah. Untuk mendapatkan 1 unit, mereka hanya mengeluarkan 3 dolar [EUR6 per unit / (EUR2/USD)] untuk menukarnya menjadi 6 euro dan membeli produk tersebut. Itu lebih sedikit daripada sebelumnya ketika nilai tukar sama dengan EUR1,5/USD, di mana mereka harus menukar 4 dolar [EUR6 per unit / (EUR1,5/USD)] untuk mendapatkan produk tersebut.
Sebaliknya, jika nilai tukar berubah menjadi EUR1/USD, maka bahan baku menjadi lebih murah bagi perusahan eropa tersebut karena mereka hanya butuh 3 euro (USD3 per unit x EUR1=/USD) untuk membeli 1 unit. Sebaliknya, produk tersebut menjadi lebih mahal bagi orang Amerika karena harus mengeluarkan 6 dolar AS [EUR6 per unit / (EUR1/USD)] untuk membeli 1 unit.
Poin penting dari contoh diatas menanggapi bagaimana perubahan dalam nilai tukar mempengaruhi harga relatif barang yang diekspor dan diimpor meski produsen tidak mengubah harga jual dalam mata uang asal mereka. Sehingga, karena fluktuasi nilai tukar mempengaruhi harga, itu pada akhirnya mempengaruhi daya saing juga permintaan terhadap mereka. Kasus di atas merupakan contoh yang disederhanakan. Perhitungan aktual mungkin akan lebih kompleks.
4. Bagaimana nilai tukar mempengaruhi permintaan agregat juga perekonomian?
Asumsikan anda adalah orang Jerman dan Amerika Serikat adalah mitra dagang anda. Selain itu, asumsikan neraca dagang negara Anda berimbang, di mana ekspor sama dengan impor :
- Jika euro terapresiasi, anda mendapatkan dolar AS lebih banyak dari sebelumnya untuk setiap 1 euro yang anda tukar.
- Jika euro terdepresiasi, anda mendapatkan dolar AS lebih sedikit dari sebelumnya untuk setiap 1 euro yang anda tukar.
Jika apresiasi juga depresiasi tersebut mempengaruhi neraca dagang termasuk ekspor neto dan permintaan agregat, mari kita lihat satu per satu.
5. Efek depresiasi :
Ketika euro terdepresiasi terhadap dolar AS, euro menjadi kurang bernilai ketika anda menukarnya ke dolar AS. Sehingga, anda harus menggunakan lebih banyak euro untuk mendapatkan satu dollar AS. Karena euro lebih lemah terhadap dolar AS, akibatnya, produk Amerika menjadi lebih mahal bagi anda. Anda harus mengeluarkan euro lebih banyak untuk membeli produk tersebut. Konsekuensinya, anda dan pembeli domestik lainnya mungkin mengurangi permintaan, menurunkan produk yang diimpor. Anda mungkin mencari alternatif lain yang lebih murah.
Sebaliknya depresiasi membuat berbagai barang yang diekspor menjadi lebih murah bagi pembeli di Amerika. Mereka harus membayar lebih sedikit untuk mendapatkan jumlah yang sama. Akibatnya barang yang diekspor menjadi lebih berdaya saing di pasar Amerika, mendorong ekspor untuk meningkat.
Karena impor ternyata cenderung menurun dan ekspor cenderung naik, neraca dagang menjadi surplus (ekspor neto positif). Konsekuensinya, itu meningkatkan permintaan agregat dan magnet pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih tinggi karena produsen berusaha domestik meningkatkan output untuk mengekspor lebih banyak. Meskipun demikian, depresiasi mungkin juga berkontribusi pada imported inflation. Tanpa substitusi di pasar domestik, depresiasi mengakibatkan produsen domestik harus membayar lebih mahal ketika membeli bahan baku dari Amerika. Karena harga naik, biaya produksi juga naik. Mereka pun akhirnya menaikkan harga jual untuk mempertahankan laba.
6. Efek apresiasi :
Apresiasi menurunkan ekspor tapi ternyata berdampak untuk meningkatkan impor. Barang yang diekspor menjadi lebih mahal bagi pembeli di Amerika Serikat. Sebaliknya ketika barang yang diimpor menjadi lebih murah bagi anda dan pembeli domestik lainnya. Akhirnya hal itu meningkatkan permintaan impor tapi juga menurunkan permintaan ekspor.
Alhasil ekspor turun sementara impor meningkat, neraca dagang mengarah pada defisit (ekspor neto negatif). Dalam rumus di atas, defisit mengurangi permintaan agregat. Situasi ini bisa melemahkan pertumbuhan ekonomi domestik karena produsen berorientasi ekspor mengurangi output mereka. Meski produsen berorientasi ekspor mempertahankan harga jual, tapi produk mereka menjadi lebih mahal bagi orang Amerika karena apresiasi. Akibatnya daya saing mereka di pasar Amerika Serikat turun. Orang Amerika kemudian mengurangi permintaan mereka dan mencari alternatif yang lebih murah. Situasi ini kearah penurunan ekspor. Sisi lain produk Amerika menjadi lebih murah bagi pembeli domestik akibat apresiasi. Mereka menjadi lebih menarik bagi pembeli domestik dan karena itu mendorong mereka untuk meningkatkan permintaan. Beberapa mungkin beralih dari produk domestik ke produk Amerika. Sebagai hasilnya, situasi ini mengarah pada peningkatan impor.