Berita Industri

Pelemahan Rupiah Dekati Rp18 Ribu: Ancaman Inflasi Impor bagi Warga

27 Juni 2026 Natindo Cargo
Pelemahan Rupiah Dekati Rp18 Ribu: Ancaman Inflasi Impor bagi Warga

Nilai Tukar Rupiah Melemah Mendekati Rp18.000 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan, kini hampir menyentuh level Rp18.000. Pada perdagangan Kamis (25/6) sore, mata uang Garuda (istilah lain untuk rupiah) tercatat melemah 9 poin atau 0,05 persen, mencapai posisi Rp17.943 per dolar AS.

Kondisi pelemahan rupiah ini menjadi perhatian serius karena diprediksi dapat memicu efek berantai berupa lonjakan harga. Kenaikan ini terutama untuk barang-barang kebutuhan pokok, seiring dengan meningkatnya biaya impor bahan baku.

Dampak Inflasi Impor pada Konsumen dan Pelaku Usaha

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Hal ini karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan esensial, seperti bahan baku industri, komponen elektronik, gandum, kedelai, dan bahan baku obat-obatan.

Yusuf menerangkan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyebabkan biaya impor dalam rupiah meningkat. Kenaikan biaya ini pada akhirnya diteruskan ke harga jual produk di pasar, sebuah fenomena yang dikenal sebagai inflasi impor (imported inflation).

“Fenomena inflasi impor ini berdampak tidak hanya pada masyarakat perkotaan yang membeli barang impor, tetapi juga pada petani dan pelaku usaha. Mereka yang mengandalkan pupuk, pakan ternak, bahan bakar, atau input produksi lain dengan komponen impor juga akan merasakan kenaikan harga,” jelas Yusuf.

Ia menegaskan, inflasi yang terjadi secara bertahap akan mengikis daya beli masyarakat. Kenaikan harga berbagai kebutuhan tidak selalu diimbangi dengan peningkatan pendapatan yang sepadan.

Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah

Menurut Ronny P Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), pelemahan rupiah disebabkan oleh perpaduan faktor global dan domestik.

Dari sisi global, penguatan dolar AS seringkali disebabkan oleh kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Selain itu, situasi ketidakpastian global juga mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman (flight to safety). Ini berakibat pada keluarnya modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, faktor domestik seperti defisit transaksi berjalan, tingginya kebutuhan impor, serta persepsi pasar terhadap prospek ekonomi dan fiskal Indonesia juga turut berperan dalam memengaruhi nilai tukar rupiah.

Ronny menambahkan bahwa meskipun rupiah sempat menguat sebelumnya, pergeseran sentimen global yang cepat memiliki potensi untuk dengan mudah membalikkan tren tersebut.

Bagikan Artikel Ini
Konsultasi Gratis Sekarang!